Pernahkah kalian merasa dilupakan seseorang?
Wajar. Setiap orang punya alurnya masing-masing. Ada yang menetap di ingatan, ada pula yang lenyap terkikis waktu.
Namun... Gimana kalau sosok yang melupakanmu adalah ibumu sendiri?
Sebelum lebih jauh, beliau bukan yang melahirkanku. Silsilah keluargaku rumit untuk diurai. Namun yang pasti, beliaulah yang merawat, membesarkan, dan memberikan kasih sayang utuh sejak aku kecil. Abang-abangku juga bukan sedarah, tetapi kami tumbuh di bawah naungan kasih yang sama.
Orang tua kandungku? Entahlah. Untuk saat ini, tak perlu membicarakannya.
Bulan ini, genap dua tahun aku berkelana dari kampung halaman demi menempuh pendidikan di pulau seberang. Dua tahun pula rentang jarak ini memisahkan kami.
Aku dan Ibu jarang bertukar kabar.
Alasan pertama, karena beliau tidak memiliki telfon genggam.
Alasan kedua......., aku tidak sanggup melakukannya. Aku terlalu lemah menatap wajahnya, karna setiap kami videocall ataupun telfon biasa, ada binar bahagia di matanya. Melihat dia bahagia saat melihatku juga termasuk kebahagiaan ku juga. Namun, diriku tak pernah sanggup menyaksikan bulir air matanya jatuh.
Singkat cerita, libur semester kali ini aku pulang ke kampung halaman.
Tidak, aku tidak pulang ke rumah ibu angkatku ini.
Aku pulang ke orang tua kandungku, setelah 17 Tahun berpisah, kini akhirnya aku tinggal dengan mereka.
——————————————————————————————————
Hari ini aku mampir ke rumah ibu, buat ngajak beliau ke makam ayah.
Tahu apa yang beliau katakan saat pertama melihatku?
"Kamu... siapa?"
Ia tidak mengenaliku.
Rentetan ingatan tentangku seolah menguap.
Hati mana yang tak remuk mendengar itu?
Entah apa aku sudah berubah terlalu banyak? Atau ingatannya yang lapuk dimakan usia,
Ya wajar. Umurnya sudah 80 tahunan.
Beruntungnya beliau masih mengingatku saat aku memperkenalkan diri, dan sekali lagi aku tak sanggup melihat tangisan itu.
Ibu, aku merindukanmu.
——————————————————————————————————
Karna jarak pemakaman begitu dekat, hanya beberapa meter dari tempat tinggal ibu, jadi kami berjalan kaki.
Membersihkan makam ayah, memanjatkan doa, bercerita, lalu pulang.
Sepanjang jalan pulang kami berjalan kaki sambil berbincang, tertawa bersama setelah sekian lama, sambil menyapa setiap tetangga yang kami temui.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hingga langkahku terhenti depan rumahnya.
Berat. Rasanya.
Aku tidak bisa berlama lama, dan segera berpamitan untuk kembali ke orang tua kandungku.
Aku mulai menyalakan motor, tiba-tiba ibu keluar dan menghampiri ku lagi.
"Nak, Terimakasih ya."
Untuk pertama kalinya, itu kata "Terimakasih" yang kudengar pertama kali darinya.
Rasanya begitu asing dan menyayat.
——————————————————————————————————
Ibu, jika ada kesempatan berikutnya, izinkan aku menetap di sisimu sedikit lebih lama.

0 comments:
Posting Komentar